• MTSN 1 SABANG
  • MTsN Hebat, Bermatabat, Investasi Dunia Akhirat

THE GUS MY MEMORRIES

THE GUS MY MEMORRIES

            Di daerah Bandung, ada sebuah bangunan besar dan indah, yang di dalamnya ada berjuta-juta insan yang hidup untuk menuntut ilmu. Salah satunya adalah wanita saleha yang berparaskan bidadari, pintar, dan pemberani. Dia adalah wanita secerdas Aisyah, sebaik Khadijah, setangguh Masyitah, sesabar Siti Sarah, seberani Shafiah, secantik Zulaikha, dan setakwa Zainab. Wanita itu bernama Annisatul Lathifah, yang berarti wanita lemah-lembut. Annisa seorang santri di Al-Munafaqah, sebuah pesantren terkenal yang didirikan oleh Kyai H. Abdullah.

            Sekarang pukul 06.20, dan matahari baru saja menampakkan dirinya dari ufuk timur. Pada saat itu semua santri berada di kelasnya, termasuk Annisa. Annisa seorang santri kelas 2A. Sekarang Ustaz Rasya-lah yang sedang mengajar di kelas tersebut.

“Annisa, coba kamu sebutkan pembagian fi’il?” perintah Ustad Rasya yang mengajar pelajaran nahu saraf di kelas Annisa.

“Pembagian fi’il ada 3: fi’il mutharek, mathi, dan amar,” jawab Annisa dengan lancer. Menurut Annisa nahu saraf adalah pelajaran yang lebih susah daripada matematika, makanya Annisa terus menekuni dan berusaha memahami pelajaran tersebut.

            Proses belajar-mengajar sudah selesai sejak dua puluh menit yang lalu dan sekarang adalah pukul sembilan. Annisa sedang duduk di depan pintu kamarnya sambil memegang buku tebal bewarna hitam pekat, yang di dalamnya berisi catatan hafalan nahu sharaf milik Annisa. Setiap pukul sembilan Annisa memang selalu mengulang pelajaran ataupun menghafal.

“Annisa, yuk makan, kita makan sama-sama,” ucap Nurul pada Annisa.

“Iya, iya, sebentar, Annisa masuk,” jawab Annisa setelah mendengar ajakan Nurul.

“Gimana, udah sampai mana menghafalnya?” tanya Nurul.

“Alhamdulillah, udah habis kitab Jurumiah. Besok tinggal kitab Matan Binanya aja,” jawab Annisa tanpa ada niat menyombongkan diri sedikitpun. Setelah makan Annisa dan Nurul langsung tidur.

            Azan zuhur pun berkumandang. Semua santri termasuk Annisa langsung bangun dari tidurnya dan langsung bersiap-siap untuk menunaikan salat. Selesai melaksanakan salat, Annisa langsung masuk kelas untuk mengikuti pelajaran tauhid dan tasawuf yang dikaji oleh Ustaz Rafiq.

“Asslamualaikum,” ucap Ustaz Rafiq saat masuk ke dalam kelas. “Waalaikumussalam,” jawab para santri dengan serentak. Lalu sang ustaz pun memulai proses belajar-mengajar dengan lancar.

            Tepat pukul 14.12 ketika Ustaz Rafiq sedang mengajar tiba-tiba dia menerima telfon dari sang istri, Ustazah Amira. Dia mendengar kabar bahwa sang istri jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit Lili Polry Sabang. Ustaz pun tidak kuasa menahan tangis ketika mendengar sang istri di seberang pulau harus dirawat. Langit terasa mendung, bunga-bunga terasa gugur bagai kapas yang diterbangkan angina. Dalam keadaan sedihnya, Ustaz Rafiq teringat pada seorang murid kesayangannya yang bernama M. Haidar Al-Faruk, atau kerap dikenal dengan panggilan Gus Aidar. Dengan sigap dia pun menghubungi Aidar, dan meminta tolong menggantikan Ustad Rafiq mengajar di pondok untuk sementara waktu. Gus Aidar pun menyetujui permohonan Ustaz Rafiq.

Hari-hari pun berlalu. Pondok Al-Munafaqah terasa berkabung atas berangkatnya Ustaz Rafiq ke Aceh untuk menjenguk sang istri dalam keadaan pilu. Ketika rintik-rintik hujan datang menyapa, tiba-tiba terdengar klakson mobil Alphard di gerbang pondok Al-Munafaqah. Tidak sengaja Annisa yang sedari tadi membersihkan gerbang merasa kaget seraya penasaran.

Singkat cerita seorang pemuda bersarung coklat, berbaju hitam, turun dari mobil dan menyapa gadis yang sedang berdiri di gerbang pondok.

“Assalamualaikum, Ukhti.

“Waalaikumussalam, Ustaz,” jawab Annisa dengan suara terbata-bata. Pandangan Annisa ternyata tidak kuasa membuat seorang pria yang memandangnya terpesona. Pria tersebut terdiam tidak melontarkan pertanyaan apa pun seraya mengucap “masya Allah”.

            Annisa yang merasa terheran memberanikan diri untuk berbicara dengan pemuda yang ada di hadapannya. Singkat cerita Annisa dan Gus Aidar pun saling kenal, dan Annisa mendapat kesan bahwa sosok Gus Aidar merupakan salinan utuh dari sang guru idola, Ustaz Rafiq.

            Hari-hari berlalu, bahkan musim pun telah berganti. Pada suatu hari, tepatnya hari Senin, ketika Gus Aidar sedang mengajar tiba-tiba dia menemukan surat dalam laci meja Annisa. Ia pun membaca isi surat tersebut. Entah mengapa Gus Aidar merasa cemburu ketika membacanya. Dia duduk dan terdiam serasa dibungkam oleh gumpalan cinta dan cemburu.

            Hari-hari yang dilalui oleh sesosok “Rajulun Syuja” di pondok Al-Munafaqah membuat ia menemukan secercah sinar yang luar biasa, yaitu sinar cinta suci yang terpancar di kedua bola mata bidadari cantik asal Bandung itu.

            Keesokan harinya, ketika hendak berangkat mengajar, sang ustaz tampan telah menyiapkan sepucuk surat yang diikat dengan pita merah. Dengan niatan ingin mengungkapkan isi hatinya kepada si bidadari cantik Annisa, ia pun berangkat ke lokal untuk mengajar.

            Sesampainya di lokal senyum manis sang ustaz berubah menjadi sedih karena pagi itu dia tidak menemukan Annisa di lokalnya. Maka, ia keluar dari lokal untuk menenangkan dirinya, lalu berjalan-jalan naik turun tangga dan duduk di sebuah batu dekat pancuran. Tidak sengaja dia melihat sesosok gadis memakai gamis hitam, cardigan army, dan jilbab hitam berdiri di depan asrama putri sambil menenteng tas ranselnya. Sang ustaz pun datang dan menyapa.

Afwan, Ukhti, hendak apakah Ukhti di sini?”

Gadis tersebut membalikkan badan dan menatap sang ustaz dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata, “Ustadz …”

Tak sempat gadis itu melanjutkan jawabannya, sang ustaz langsung memotong pembicaraannya. “Annisa, kenapa kamu membawa ransel? Apakah kamu ingin pergi?”

“Maaf, Ustaz, saya pergi untuk sementara waktu.”

“Kenapa begitu? Ada masalah apa, Annisa? Coba ceritakan.”

Annisa hanya bisa menangis tersedu-sedu. Gus Aidar yang melihat Annisa menangis tidak kuasa menahan mendung yang berkobar di matanya. Dia memberanikan diri untuk menghibur Annisa.

“Annisa, coba ceritakan ke saya apa yang terjadi?”

“Ustaz, maafkan Annisa jika selama ini kurang sopan dan mungkin menyakiti perasaan Ustadz. Annisa ingin pamit dari pondok. Sekarang Annisa tidak tahu harus bagaimana. Setelah ibu meninggal, ayah Annisa tidak pernah menganggap Annisa ada.”

“Mengapa kamu berbicara seperti itu, Annisa?”

“Tadi Annisa menerima telfon dari ayah. Ayah hendak jual Annisa, Ustaz. Ayah tega …. Annisa tidak sanggup lagi dengan kehidupan ini. Annisa ingin pergi dan mengikuti takdir.”

            Mendengar jawaban Annisa, sang ustaz kaget dan rasanya ia ingin menikahi Annisa secepatnya, agar keselamatan Annisa tidak terancam. Tetapi dia tidak ingin menyampaikan perasaannya secara terus terang. Dia butuh waktu untuk itu. Sang ustaz hanya bisa memberikan nasehat-nasehat dan membujuk Annisa agar tidak pergi.

            Akhirnya Annisa pun kembali ke asrama dan menatap langit seraya berkata, “Ya Allah, aku ingin memiliki keluarga yang bahagia layaknya keluarga Ustaz Rafiq dan Ustazah Amira. Aku ingin jadi bayi yang dikandung Ustazah Amira. Aku ingin menjadi bagian dari mereka.” Kata-kata tersebut sering terucap dari mulut Annisa.

            Lambat-laun Annisa pun kembali ceria. Dia semakin terlihat akrab dengan Gus Aidar. Pepat pada empat Januari Gus Aidar mengajak Annisa untuk bermain truth or dare di lapangan yang bersebelahan dengan kantor guru. Annisa setuju.

“Annisa, sekarang kamu pilih mana?”

“Saya truth saja, Ustaz,” jawab Annisa malu-malu.

“Oke, Annisa, sekarang kamu jawab pertanyaan saya dengan jujur. Apa keinginan yang sangat kamu idam-idamkan?”

Dengan wajah tertunduk malu dia menjawab pertanyaan Gus Aidar dan Gus Aidar pun diam-diam merekam pengakuan Annisa.

“Sebenarnya, Ustaz, jujur saya sangat ingin menjadi bagian keluarga Ustaz Rafiq. Sekarang saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Annisa ingin dijadikan anak angkat oleh ustaz Rafiq dan Ustazah Amira, tapi mustahil bagi saya untuk menggapai itu semua, Ustadz. Tak mungkin wanita secantik dan sebaik Ustazah Amira mau menerima Annisa sebagai anaknya.” Kata-kata tersebut diakhiri dengan senyuman kecil dari bibir Annisa.

Lalu Gus Aidar menjawab, “Annisa, tidak ada yang tidak mungkin, tetaplah istikamah dengan keinginanmu, berdo’a dan berusaha, Ustaz juga akan berusaha membantu Annisa. Ingat saya selalu bersamamu.”

Annisa terdiam,dan melamun meresapi makna yang terkandung dalam ucapan Ustaz Aidar. Di tengah lamunannya, Annisa dikagetkan oleh suara Gus Aidar yang kembali berkata, “Ayo, Annisa, kita lanjut lagi permainanya.”

“Baiklah, Ustadz, sekarang giliran ustad untuk memilih truth atau dare?” Ternyata pilihan ustaz dan Annisa sama. Mereka sama-sama memilih truth.

“Ustaz,” rayu Annisa sambil mengedipkan matanya, “sekarang Ustaz harus jujur, apa masalah ustaz yang tidak pernah ustaz ceritakan kepada Annisa?”

            Sang ustaz terdiam seribu bahasa, seakan-akan pertanyaan Annisa merupakan bongkahan es yang dihantamkan ke tembok-tembok hati seorang pria. Ustaz paruh baya itu mengeluarkan selembar kertas putih yang diikat dengan pita merah dari kantongnya, lalu memberikannya kepada Annisa. Dengan linglung sang ustaz cuma berkata, “Annisa, jika kamu sudah membaca isi surat ini, tolong jangan marah dan tetaplah kita bersama layaknya sekarang ini.”

“Baik, Ustaz,” jawab Annisa. Dalam keadaan serius itu Annisa memberanikan diri untuk membuka isi surat. Sebelum membacanya dia terlebih dahulu menarik napas dalam-dalam.

 

Assalamualaikum, wahai Bidadariku

           

            Untukmu yang namanya selalu dalam doaku

Meski tak mampu aku mengungkapkannya lewat lagu, namun ada cinta dalam diamku…

Meski tak bisa aku mengurainya lewat kata-kata, namun ada cinta dalam air mataku …

            Kepada Allah kutitipkan cinta ini untukmu karena jujur saja hatiku selalu merindukanmu,walau diriku tak pernah tahu sampai kapan aku menunggumu…

 

            Izinkan aku untuk selalu mendoakanmu agar dirimu menjadi pelabuhan cinta terakhir untukku …

                                                                                                #Annisatul Latifah

 

            Setelah membaca isi surat, seakan-akan pagi datang menyapa embun pagi yang penuh dalam kesejukan. Annisa tak berucap satu kata pun karena diam-diam dia juga merasakan perasaan yang sama kepada ustaz. Diam pun mencekam.

“Ukhti Annisa,” Gus Aidar mulai membuka pembicaraannya, “maukah engkau mendampingi hidupku dalam jalan menuju cinta-Nya yang abadi? Sungguh kesalehanmu telah memikat jiwaku, sehimgga aku begitu yakin untuk memilihmu menjadi pendamping hidup dan matiku, dunia dan akhiratku.” Kalimat itulah yang membuat Annisa semakin tak karuan, lalu menerima cinta Gus Aidar. Namun, itu bukan berarti mereka berpacaran.

            Waktu pun berlalu dan Gus Aidar ingin menjalani hubungan pertemanan ini hingga ke puncak keseriusan. Gus Aidar ingin menikahi Annisa selepas Ustaz Rafiq kembali ke pondok.

            Keesokan pagi, di kala semilir angin berhembus sejuk dan asrama putri pondok Al-Mufaqah masih lengang, tiba-tiba sebuah pengumuman yang tersiar membuat santriwati heboh. Pagi itu tersiar kabar bahwa Gus Fadil akan pulang dari Turki dalam waktu dekat. Gus Fadil adalah putra dari K.H. Abdullah. Selama ini beliau belajar di Turki. Kebanyakan dari santri putri hanya mengetahui Gus Fadil dari mulut ke mulut. Annisa belum tahu siapa Gus Fadil, sehingga timbullah tanda tanya dalam benaknya. Annisa pun bertanya kepada Fariska.

“Far, Gus Fadil itu siapa?”

“Gus Fadil itu putra Kyai Abdullah, masak kamu nggak tahu sih?” ucap Fariska. Annisa terdiam tak membantah satu kata pun.

 

Hari berganti hari, matahari bersinar cerah seperti biasa, begitu juga para santri: mereka masih mengikuti pelajaran seperti biasa. “Assalamualaikum,” tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk ke lokal Annisa, dan memanggil Annisa untuk menghadap Kyai. Tanpa bantahan Annisa pun menuju ke rumah Kyai. Annisa kaget karena di ruang tamu sudah ada Kyai, Ummah, Gus Aidar, beberapa guru, dan seorang pria yang tak dikenalnya. Ummah yang sedari tadi melihat Annisa langsung mempersilahkan Annisa untuk duduk.

            Beberapa menit berlalu, Kyai langsung membuka pembicaraannya. Ternyata Kyai ingin mengadakan mudzakarah dalam beberapa hari ke depan.

            Malam itu terasa tenang. Setelah selesainya mudzakarah, ternyata Kyai melihat kecocokan antara Gus Fadil dan Annisa. Tiba-tiba Kyai datang dan duduk di sebelah Gus Fadil.

“Fadil Anak Abah, Abah ingin kamu segera menikah.”

“Menikah?” Gus Fadil terkejut, kata-kata menikah yang keluar dari mulut Abah seakan-akan kilatan petir yang menyambar tanpa terduga.

“Fadil, Abah ingin melihat kamu menikah. Kamulah penerus Abah, satu-satunya anak yang Abah harapkan untuk melanjutkan perjuangan di pesantren ini.”

“Maaf, Abah, bukan maksud Fadil untuk membantah, tapi Abah tahu kan Fadil tidak pernah kenalan dengan perempuan. Siapa yang akan Fadil nikahi, Bah?”

“Bagaimana kalau kamu menikahi Annisa. Kamu tahu kan kenapa di saat mudzakarah nahu dan sharaf Abah memanggil Annisa. Kamu bisa lihat sendiri, selain pintar dia juga sopan. Tidak ada salahnya jika engkau mempertimbangkannya.”

“Kalau menurut Abah itu yang terbaik buat Fadil, insya Allah dengan senang hati Fadil terima ajakan Abah.”

 

Minggu dan bulan berlalu. Entah mengapa sampai sekarang Gus Fadil tidak pernah berbicara dengan Annisa. Hingga suatu saat, ketika Annisa sedang belanja karena disuruh Ummah di depan pondok, tiba-tiba Gus Fadil memanggilnya.

“Annisa, usia kamu berapa sekarang?” tanya Gus Fadil kalem.

“Sembilan belas tahun, Gus,” Annisa menjawab dengan sedikit gugup.

            Sesampainya di rumah Kyai, Annisa menanyakan kepada Ummah mengapa tadi Gus Fadil tiba-tiba memanggilnya dan menanyakan usianya. Ummah hanya tersenyum. Suatu malam pondok dikagetkan lagi dengan kembalinya guru idola ke pondok Al-Munafaqah. Kali ini sang guru idola tidak sendirian, tapi didampingi istri dan buah hatinya yang baru berumur beberapa bulan. Sekarang Ustaz Rafiq tinggal di pondok dan salah satu tujuan mereka kembali ke pondok karena beliau ingin menjadikan Annisa sebagai anaknya.

            Seiring berjalannya waktu, Gus Aidar yang dulunya sangat mencintai Annisa sekarang ingin meminta restu kepada Ustaz Rafiq. Sesampainya di kediaman Ustaz Rafiq, Gus Aidar heran karena ternyata keluarga Kyai sedang berbincang dengan Ustaz Rafiq. Ustazah Amira yang tanpa sengaja melihat Gus Aidar mempersilahkan Gus Aidar untuk duduk bersama di ruang tamu.

            Entah mengapa perasaanku tak enak, batin Gus Aidar. Gus Aidar ingin melupakan tujuannya menemui Ustaz Rafiq. Dia mengurungkan niatnya karena merasa tidak sopan jika seorang murid memotong pembicaraan sang guru.

            Gus Aidar duduk di samping Gus Fadil. Ustaz Rafiq kembali melanjutkan pembicaraan mereka dengan Kyai. Gus Aidar masih belum paham dengan apa yang dibicarakan mereka, yang jelas Gus Aidar sempat mendengar kata-kata pernikahan beberapa kali.

            “Begini, Nak,” kata Kyai kepada Gus Fadil. Sejenak ruang tamu hening. “Beberapa minggu yang lalu Abah sudah menjodohkanmu dengan Annisa.” Gus Aidar terkejut bukan main. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, sedangkan Annisa yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka di balik tirai kamar tak kuasa menahan tangisnya. Tubuhnya yang lemah sekejap tersungkur ke lantai, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan panik. Ustazah Amira yang melihat Annisa segera membopong Annisa ke dalam kamarnya.

            Sadar dari siumannya, Annisa memeluk Umi Amira dengan eratnya sambil menangis. Dia menceritakan semua kisahnya dengan Gus Aidar kepada Umi Amira. Umi ikut sedih, tetapi dia hanya bisa menyemangati Annisa.

“Sudahlah, Annisa, kamu jangan menangis, Abi pasti menginginkan yang terbaik untukmu.”

            Annisa kembali ke asramanya. Ia sendiri tak tahu kenapa air matanya tiba-tiba mengalir. Entah karena terkejut, sakit, atau sedih, seakan-akan semuanya bercampur menjadi satu. Di asrama dia mencari Fariska, dan mengajaknya untuk menemaninya bertemu dengan Gus Aidar di pojokan aula. Air mata Annisa sudah berhenti mengalir, namun sesekali ia masih sesenggukan. Dia mencari Gus Aidar ke sana-ke sini namun tak kunjung jumpa. Dari kejauhan dia melihat Gus Aidar pergi dengan motornya. Entah ke mana dia pergi, yang jelas dia melihat Gus Aidar menangis sambil berteriak.

            Annisa ingin mencegahnya, namun terlambat. Gus Aidar langsung menancap gas dan pergi menjauh.

“Nis, jangan nangis. Gus Aidar pasti kembali,” bujuk Friska.

“Far, entah kenapa perasaanku nggak enak.”

“Annisa, pasti kamu kecapean. Yuk kita kembali ke asrama.”

“Tapi, Far,” tak sempat Annisa berkata lain, Fariska langsung merangkulnya dan membawanya ke asrama. Beberapa jam kemudian Umi Amira datang ke asrama Annisa.

“Kenapa Umi keliatan panik, Mi?” tanya Annisa. Umi menangis.

“Nak Aidar, Nak … Aidar ….”

“Kenapa dengan Gus Aidar, Mi?”

“Ai.. Ai.. Aidar kecelakaan, Nak ….”

            Annisa yang mendengar berita itu dalam sekejap langsung lemas tak berdaya. Ia termenung, takut hal yang tak diinginkan terjadi terhadap Gus Aidar. “Umi, Annisa ingin jumpa dengan Gus Aidar, Mi, tolong temani Annisa, Mi. Annisa pengen ngomong sama Gus Aidar. Ayo, Umi … kita sekarang ke tempat Gus Aidar … ayo, Umi ....” Annisa tersedak tak karuan dengan tangisnya.

            Angin menderu keras membelai apa saja yang ditemuinya, membuat gorden putih ruang ICU itu terombang-ambing terkena desahan nafasnya. Perlahan Gus Aidar membuka mata melihat orang yang disayanginya, bidadari yang sangat dicintainya. Aku tidak ingin melihat mereka sedih, walaupun aku nantinya akan pergi untuk selamanya. Gus Aidar berbisik pada hatinya sambil menitikkan air matanya.

“Aidar, kamu sudah sadar, Nak,” sapa Umi Amira dengan halus.

“Aku ada di mana, Umi?”

“Kamu sekarang ada di rumah sakit,” jawab Ustazah Amira dan Ustaz Rafiq serentak.

            Seketika Aidar terkejut dengan jawabannya, tapi sesungguhnya saat itu hatinya sangat hancur. Ia seketika meminta agar dia ditinggal sendirian di ruang itu. Semua pun keluar dan hanya Annisa yang tak bisa meninggalkan Gus Aidar sendirian. Dia masih berdiri di samping ranjang Gus Aidar.

“Annisa, mungkin aku harus pergi. Maaf aku pergi mendahului kalian. Aku tak bisa mengingkari takdirku. Aku sayang sama kamu, Nis. Aku sayang sama Umi dan Abi. Tolong jagalah Abi dan Umi, dan rawatlah dia walaupun dia hanya orang tua angkatmu. Annisa, terimalah perjodohanmu dengan Gus Fadil. Aku akan membawa cinta ini sampai nanti aku tiada. Aku sangat menyayangi kalian.”

“Ustaz tidak akan meninggalkanku kan? Annisa percaya Gus Aidar pasti akan sembuh, percayalah, Ustadz, Ustadz harus ….”

“Tapi, Nis …,” tiba-tiba tubuh Gus Aidar semakin lemas dan dia pun berbaring dan memejamkan matanya.

“Ustaz … Ustaz … bangun, Ustaz,” seketika ruangan itu bersimbah dengan air mata.

            Innalillahi wainnailaihi rajiun, Kyai Abdullah pun mulai menitikkan air mata. Ustazah Amira kembali merebahkan kepalanya di dada Ustaz Rafiq, sementara Gus Fadil dan Umah duduk saling merangkul. Annisa yang terduduk di lantai menangis sebisa-bisanya. Tak sengaja Gus Fadil melihat kertas di bawah bantal Gus Aidar. Dia pun mengambilnya dan membaca isi surat tersebut.

 

Assalamualaikum, bidadariku Annisa

            Mungkin surat ini adalah surat terakhir yang aku tulis karena aku merasa hidupku tak lama lagi.

            Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tiada. Tuhan sudah memberikanku banyak kebahagiaan, dan kebahagiaan terakhir untuk hidupku adalah bertemu denganmu. Ini adalah salam terakhirku. Jadilah Annisa yang tegar, yang selalu tersenyum. Saat membaca surat ini pasti kamu akan menangis. Tapi berjanjilah bahwa ini tangisan terakhirmu. Jadilah yang terbaik untuk Gus Fadil karena kebahagiaanku adalah ketika melihatmu dan Gus Fadil bahagia.

 

            Seketika Gus Fadil termenung dan menangis. Dia merasa tidak enak hati terhadap Annisa dan Gus Aidar. Gus Fadil tak menyangka ini semua akan terjadi. “Semenjak kehadiranku, ada dua hati satu cinta yang harus terpisahkan. Maafkan aku, Aidar, aku tak tahu apa yang selama ini terjadi. Aku berjanji akan membahagiakan Annisa layaknya dia bahagia bersamamu. Aku akan menjaga Annisa dan membahagiakan dia demi kebahagiaanmu. Aku akan menjalankan amanahmu, Aidar. Selamat jalan, semoga kamu ditempatkan di surge-Nya,” lirih Gus Fadil.

            Bulan pun berlalu. Sekarang Annisa dan Gus Fadil telah menjalani sebuah hubungan yang sah. Annisa sedang mengandung anak pertamanya.

“Sayang, kamu di mana?”

“Aku sedang di ruang tengah, Mas, lagi ngumpul sama Umi dan Abi nih,” celoteh Annisa. Begitulah hari-hari yang dilalui Annisa. Dia merasa bahagia karena telah dipertemukan dengan seorang yang sama perangainya dan sikapnya dengan mantan kekasihnya Gus Aidar. Sebagai ucapan terima kasih Annisa dan Gus Fadil terhadap almarhum Gus Aidar, mereka berencana untuk menamai calon bayinya dengan nama Dzaky Almuyassar Haidar.

 

            Aku jatuh cinta pada seseorang

            Yang kisahnya hanya mampu kuukir dalam

            Rangkaian kata, dengan tetap memahat indah

            Namanya di jantung Do’a

           

 

                                                                                    Oleh: Rahadatul Aisy

 

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tongkat Kepemimpinan Berpindah, Kepala MTsN Kota Sabang Resmi Lantik Pengurus OSIM 2026/2027

Kepala MTsN Kota Sabang, Muhammad Nasir S Pd, resmi melantik pengurus OSIM periode 2026/2027. Pengambilan sumpah jabatan di pimpin langsung kepala madrasah dan diikuti seluruh pengurus

13/04/2026 12:33 - Oleh administrator - Dilihat 278 kali
Kasi Penmad Kemenag Sabang Tinjau Langsung Pelaksanaan TKA 2026 di MTsN Sabang

Kasi Penmad Kemenag Kota Sabang Hj Nuranifah S Ag M Pd dan Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Sabang Muhammad Nasir S Pd meninjau pelaksanaan TKA (Tes Kemampuan Akademik) guna memastikan

09/04/2026 16:14 - Oleh administrator - Dilihat 187 kali
MEMBACA SENYAP MTsN SABANG

Membaca senyap MTsN Sabang edisi Selasa, 8 November 2022. Membaca senyap merupakan salah satu program Literasi MTsN Sabang dari sekian banyak program literasi lainnya. Membaca Senyap d

08/11/2022 08:59 - Oleh administrator - Dilihat 1158 kali
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag

Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya   Oleh Sri Nilawati, S.Ag               Tangga mer

26/10/2022 10:50 - Oleh administrator - Dilihat 558 kali
Apel

Apel                 Siang ini terasa terik sekali matahari membakar wajah ku yang sudah semakin legam terbak

08/09/2022 18:23 - Oleh administrator - Dilihat 628 kali
Duka

Duka hadirnya tak terduga sering tak didamba menghadapi Duka dengan sabar adalah Pahala bagi mereka yang percaya   Kadang duka menghampiri saat hari begitu indah hingga air

08/09/2022 18:19 - Oleh administrator - Dilihat 572 kali
Ayah

Ayah Aku tak pernah ingat hangat belaian tangan kekar mu namun aku percara Engkau selalu membelaiku Karena aku dapat merasakannya Hari ini usia ku bertambah “bukan bertamba

08/09/2022 18:18 - Oleh administrator - Dilihat 549 kali
Yang Terabaikan

Yang Terabaikan Mengapa engkau melakukan apakah hanya karena mengejar penghargaan segera hentikan jika itu yang menjadi alasan   Seberapa penting alasan itu jangan pernah en

08/09/2022 18:16 - Oleh administrator - Dilihat 586 kali
Tulang Rusuk

Tulang Rusuk wahai engkau sang tulang rusuk berakhir sudah kini di hari Sabtu 29 Agustus 2020 Engkau tak pantas lagi menjadi tulang rusuk Menangis darah pun engkau Mulai hari ini

08/09/2022 18:14 - Oleh administrator - Dilihat 658 kali