MEMANGGIL ARWAH
MEMANGGIL ARWAH
Namaku Viona Vanessa. Umurku enam belas tahun. Aku bersekolah di SMA Bangsa Raya, dan menduduki kelas X. Saat ini aku akan menceritakan kisah tragisku, di mana saat itu aku kehilangan ketiga sahabatku.
***
Kring .... Kring ....
Alarmku berbunyi. Aku segera bangun dari tempat tidurku dan memasak sarapanku sendiri. Yeah, aku sudah hidup mandiri sejak orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan itu sudah lama terjadi, saat aku berumur sepuluh tahun.
Aku menghabiskan sarapanku, lalu pergi ke sekolah menggunakan skate board-ku. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Aku memang selalu datang dengan cepat. Aku duduk di bangkuku sambil menunggu para murid lainnya datang.
Satu per satu murid berdatangan. Aku sedang berbicara dengan ketiga sahabatku. Sebaiknya aku memperkenalkan ketiga sahabatku ini pada kalian.
Elvia, sifatnya baik dan penurut. Dia juga sering disuruh-suruh teman sekelasnya. Kepintarannya itu di atas rata rata, jadi tidak heran jika dia sering mendapatkan juara umum dan penghargaan lainnya.
Vania, sifatnya itu barbar. Dia sering mempermalukan dirinya di sekolah--ralat, maksudku di depan umum. Aku pikir urat malunya sudah putus.
Elma, sifatnya sangat mirip dengan Vania. Aku hampir mengira kalau mereka itu kembar. Tapi Elma tak separah Vania. Terkadang dia tahu kapan waktunya serius dan kapan waktunya bercanda.
***
"Hai, aku membawa berita baru, " kata Vania sambil berlari. "Apa?" tanya Elma. "Hehe, katanya ada rumor baru, permainan memanggil arwah," jawab Vania. Aku yang awalnya tidak peduli mulai tertarik. "Charlie Charlie Challange," kata Vania. "Arwah apa yang akan terpanggil?" giliran Elvia yang bertanya. "Arwah anak kecil", jawab Vania. "Permainan ini berasal dari Florida. Kita butuh dua bahan, dua buah pensil dan sebuah kertas. Cara bermainnya kita harus membuat dua kata 'NO' dan dua kata 'YES', lalu menyilangkan pensil di atas kertas seperti bentuk tambah (+). Kita harus bertanya pada arwah Charlie, apakah dia mau bermain dengan kita atau tidak. Ruangan harus gelap, hanya boleh diterangi cahaya lilin, " jelas Vania panjang lebar. Aku yang mendengar hal itu langsung ingin mencoba permainan itu. "Bagaimana kalau kita mencobanya?" tanyaku. "Apa? Mencoba permainan itu? Kau gila?" Elvia terkejut seakan tak percaya apa yang kukatakan barusan. "Mungkin dia kerasukan khodam (penjaga gaib) Vania," ujar Elma ngawur. "Ngawur, mana mungkin aku punya khodam, " kata Vania dengan kesal. "Pokoknya nanti malam berkumpul di rumahku," kataku sambil menutup pembicaraan kami. Belum pun bel berbunyi, guru sudah masuk kelas. Kami mengikuti pelajaran dengan baik.
Kring .... Kring .…
Bel istirahat berbunyi. "Horeee Istirahaaaat!!!" teriak Vania. Dia pun segera berlari ke kantin, meninggalkan kami bertiga. Kami pun segera menyusul Vania ke kantin. "Kalian mau pesan apaa?" tanya Vania. "Nasi goreng sama jus jeruk yang dingin, " kataku. "Punyaku samain aja ke Viona," kata Elvia. "Kalau aku mi bakso dengan kapucino dingin aja," kata Elma. "Oke, dua piring nasi goreng, dua piring mi bakso, dua gelas jus jeruk, dan dua gelas kapucino, segera datang, " kata Vania, sambil menirukan gaya seorang pelayan.
"Vionaa, kau yakin mau main itu nanti malam? Kalau kita mati gimana? Aku tidak mau mati muda," kata Elvia dengan cemas. "Ayolah, ini hanya permainan, tidak ada yang akan mati, Elvia," kata Elma malas. "Kita akan baik baik saja, Elvia," kataku seraya menenangkan Elvia. Elvia hanya bisa mengangguk pasrah. “Pesanan kalian udah datang, "kata Vania sambil mengantar nampan berisi pesanan-pesanan kami. "Ayo makan, aku sudah lapar," ajak Elma. Kami pun makan dengan tenang.
Bel tanda masuk telah berbunyi. Kami segera masuk ke kelas, mengikuti pelajaran dengan baik, hingga waktunya pulang.
Bel pulang akhirnya berbunyi, kami pun segera keluar dari kelas. "Jangan lupa nanti malam yaa?" kataku untuk mengingatkan mereka. "Iyaa, kami gak bakalan lupa," teriak Elma dan Vania secara bersamaan, sementara Elvia berjalan pulang duluan. Dia berjalan lemas.
***
Malam pun tiba ....
Kami sudah berkumpul di kamarku. Bahannya juga sudah tersedia di atas mejaku. "Huhhh … kau yakin kita akan selamat dari permainan ini?" tanya Elvia dengan cemas padaku. "El, tenang aja, kita akan baik baik aja kok," kata Vania seraya menenangkan Elvia. "Charlie Charlie, are you real? (Charlie Charlie, apa kau nyata?)" Pensilku bergerak ke arah 'YES', itu artinya dia nyata. "Charlie Charlie, are you here? (Charlie Charlie, apa kau disini?)" tanyaku lagi. Pensil pun bergerak dan lagi-lagi ke arah 'YES'. Dia di sini, bersama kami. "Charlie Charlie, can we play? (Charlie Charlie, bisa kita bermain?)" tanyaku untuk kesekian kalinya. Jika Charlie menjawab 'ya' maka kami harus bermain dengannya, akan tetapi jika Charlie menjawab 'tidak' maka kami tidak perlu bermain dengannya. Pensil pun bergerak ke arah 'YES'. Itu artinya kami harus bermain dengannya.
"Kalian boleh bertanya apapun, asalkan jawabannya iya atau tidak," Jelas Vania. Elma pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Aku mau yang pertama," kata Elma dengan bersemangat. "Charlie, apa Vania punya khodam?" tanya Elma sambil menahan tawanya, sedangkan Vania merasa kesal karena pertanyaan Elma sungguh tidak masuk akal. "Itu tidak masuk akal," kata Vania sambil melempar buku tulisku ke wajah Elma. Sayup-sayup aku mendengar suara tawa anak kecil. Aku pikir mungkin Charlie tertawa karena melihat tingkah konyol Elma dan Vania. Pensil pun bergerak ke arah 'NO'. "Viona, kau tidak ingin bertanya?” tanya Elma padaku. "Hmm ... Charlie, apa aku akan merasakan kehilangan untuk kedua kalinya?" tanyaku. Hening, tiada suara apa pun. Aku menunggu jawaban dari Charlie. Pensil pun bergerak ke arah 'YES'. Aku hanya bisa terdiam. "Hoaaammm ... Ini sudah jam 1 malam, ayo kita tidur," ajak Elvia. "Vania, bagaimana cara menghentikan permainan ini?" tanyaku pada Vania. "Aku tidak tau, karena aku tidak mendengar semuanya," jawab Vania. "Haahh, itu gampang, kita hanya perlu memisahkan pensilnya dan membuang kertasnya," kata Elma, kemudian dia mulai memperagakan ucapannya tadi. "Nah, ayo tidur," ajak Elvia. Kami semua pun tertidur dengan nyenyak malam itu.
***
Shhh....
Aku terbangun karena bunyi air di kamar mandi. Awalnya kukira salah satu dari sahabatku berada di kamar mandi. Tapi setelah kulihat, mereka masih tertidur, tak terkecuali. Aku langsung ke kamar mandi dan mematikan air. Karena sudah terbangun, aku langsung saja memasak untuk sarapan di dapur. Saat sedang membuat sarapan, tiba-tiba aku mendengar suara anak kecil yang sedang berlari disusul tawa kecil. Aku mengira mungkin aku salah dengar. Lalu aku mendengar suara deritan kursi yang ditarik. "Huhh ... mungkin kau salah dengar, Viona," kata diriku sendiri.
***
"Aaaaa!!!!"
Aku mendengar suara jeritan di kamar mandi. Aku segera berlari ke sana. "Elvia apa kau baik-baik saja?" tanyaku. Elvia pun keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat ketakutan. "Ada apa, Viona?" tanya Vania dan Elma hampir bersamaan. "Aku tidak tau," jawabku "T-tadi di c-cermin a-ada bayangan a-anak kecil," jawab Elvia terbata-bata. "Anak kecil? Mungkin itu hanya imajinasimu," kata Vania sambil menenangkan Elvia. "Tidak!! Aku yakin itu asli!! Bukan imajinasiku!!" teriak Elvia. "Ya sudah, kalian turun saja ke dapur. Aku sudah memasak sarapan, lupakan kejadian ini," kataku. Kami semua turun ke dapur dan sarapan.
***
"Menurutmu kita sedang diteror dengan arwah Charlie?" tanya Vania. "Menurutku iya," jawab Elma. "Tapi kita sudah menghentikan permainannya bukan?" tanya Vania. Elma mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, mungkin ada arwah iseng yang ingin mengganggu kita," jawab Elma sambil mengunyah camilannya. "Di mana Elvia?" tanya Elma. "Dia di kamar. Kurasa dia syok berat karena kejadian tadi," jawabku. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa anak kecil lagi. "Apa kalian mendengar suara tawa anak kecil?" tanyaku pada Vania dan Elma. "Tidak," jawab mereka. Aku terkejut mendengar jawaban mereka. Aku bisa mendengar suara tawa anak kecil, tapi kenapa mereka tidak bisa? Aku mengira itu hanya imajinasiku saja.
***
"Lihatlah," Vania menunjukkan kameranya. "Itu hanya sebuah kamera biasa," kata Elma tak acuh. "Ini bukan kamera biasa. Kamera ini bisa memperlihatkan arwah, keren bukan?" jelas Vania. "ELMA!!! VANIA!!!" teriakku dari kamar. "Dia kenapa?" tanya Elma. "Mana aku tahu," jawab Vania. "Hey, ini tidak lucu tau!!" kataku sedikit berteriak. "Apanya yang tidak lucu?" tanya Vania padaku. "Kenapa banyak tulisan di dindingku?!! Kalian mencoba menakutiku ya?!!" teriakku. "Aku tidak tahu apa-apa, Viona, sungguh," jawab Elma. "Aku mau liat tulisannya," kata Vania, kemudian dia menarik tangan Elma dan tanganku menuju kamarku sendiri. Vania dan Elma mulai mengamati tulisan-tulisan di dinding kamarku. "Ini bukan tulisanku," kata Elma "Yaa, tulisanku lebih indah dibandingkan ini," jawab Vania sekenanya. "Mirip tulisan anak kecil," kata Elma padaku. Tulisan itu bertuliskan 'You called me and you must play with me' (kau memanggilku dan kau harus bermain denganku). Melihat kata ‘play’, aku jadi teringat ritual itu. Ritual pemanggilan arwah Charlie
***
Saat ini aku sedang makan malam. Vania dan Elma sedang bermain game, sementara Elvia sudah pulang ke rumahnya. Tiba-tiba lampu berkedip dengan sendirinya. Kursi yang berada di depanku bergerak sendiri. "Vania, Elma, jangan mengerjaiku lagi," kataku dengan tegas. Tapi aku tidak mendengar jawaban mereka. Aku menyudahi makan malamku dan memeriksa keadaan mereka di ruang tamu. Kulihat mereka sudah tertidur di sofa dengan nyenyaknya. "Kalau mereka tidur, lalu siapa yang memainkan lampu dan menggeser kursi?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku duduk di sofa, menyalakan televisi dan menonton film horor. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku mematikan televisi dan ikut tidur di sofa bersama Vania dan Elma. Jujur saja, baru kali ini aku takut tidur sendiri di kamar.
***
"Vania, Elma," panggilku pada mereka. Vania dan Elma langsung menoleh ke arahku. "Kenapa, Viona?" tanya Elma. "Aku bosan, ayo jalan-jalan ke taman," ajakku. "Oke, ayo, Vania." Elma pun menarik tangan Vania, sementara yang ditarik hanya bisa pasrah. "Vania, Elma, kalian udah siap belum?" teriakku. "Udah," jawab mereka serempak. "Ayo jalan," ajak Elma.
***
"Vania!!! Kembalikan es krimku!!!" teriak Elma. Saat ini Elma sedang mengejar Vania, karena Vania mengambil es krim milik Elma. "Tidak mau," jawab Vania sambil berlari. Aku yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa menghela nafas. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. "Viona, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elvia, ternyata yang menepuk pundakku tadi adalah Elvia. "Ehh, cuma jalan-jalan doang kok," jawabku. "Viona, ada yang ingin kukatakan," kata Elvia, wajahnya tampak serius. "Kenapa, Elvia?" tanyaku. Elvia pun segera duduk di sampingku. Aku menunggu Elvia bicara. "Sebenarnya kita sedang diteror arwah Charlie," jawab Elvia dengan lemas. Mendengar itu aku langsung menganga seolah-olah tidak percaya. "Apa kau bilang? Diteror?" tanyaku pada Elvia. Elvia hanya bisa mengangguk pasrah. "Kita harus menghentikan teror ini," kataku. "Tapi kita tidak tau cara untuk menghentikan teror ini," kata Elvia. Elvia benar, kami tidak tahu cara untuk menghentikan teror ini. "Aku akan menginap di rumahmu dan mencari tahu cara menghentikan teror ini," kata Elvia. Aku menganggukkan kepalaku. "Vania, Elma, ayo pulang," ajakku. "Baiklah,” jawab Vania dan Elma.
***
"Hoaaaamm ...."
Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku mendengar suara anak kecil sedang bermain di ruang tamu. Aku segera mengambil senter dan menyalakannya. Aku pergi ke ruang tamu dan mendapati bayangan seorang anak kecil yang sedang duduk di sofa. Aku mengarahkan senter ke bayangan anak kecil itu. Tiba-tiba sekujur tubuhku lemas, "Si-siapa kau?" tanyaku terbata-bata. "Hai .... My Name is Charlie (Hai ... Namaku Charlie)," jawab anak kecil itu. Pandanganku mengabut dan akhirnya aku pingsan di lantai ruang tamu.
***
Byurr ...
Aku terbangun karena siraman air. "Viona, kenapa kau tidur di lantai?" tanya Elma. "Siapa yang menyiramku tadi?" Bukannya menjawab pertanyaan Elma, aku malah bertanya pada mereka. "Vania," jawab Elvia. Aku segera memberikan tatapan tajam ke Vania. "Hehe, maaf Viona," kata Vania sambil tertawa pelan. "Viona, kenapa kau tidur di lantai?" tanya Elma sekali lagi. "Huhhh ... Akan kuceritakan," kataku, lalu aku menceritakan kejadian yang menimpaku semalam. Mereka terlihat terkejut, "Maksudmu, kau sudah bertemu dengan hantunya?" tanya Elma. Aku mengiyakan pertanyaan Elma. "Kalau kalian mau menemuinya, akan kubangunkan kalian jam tiga pagi," kataku.
***
"Vania, Elma, Elvia, ayo bangun,"
Aku membangunkan mereka bertiga tepat pukul tiga dini hari. "Hoaaamm .... Aku masih ngantuk, Viona," kata Elma sambil memeluk gulingnya. "Aku mendengarnya, suara anak-anak yang sedang bermain," kata Vania. Kami pun segera pergi ke ruang tamu. "Arahkan senter nya," pinta Vania. Aku mengarahkan senter pada sosok bayangan anak kecil di sofa. "Hai .... My Name is Charlie, can we play?" Charlie memperkenalkan dirinya sekaligus bertanya. Kulit wajahnya terlihat pucat. Dia mengenakan baju yang lusuh dan sepasang sepatu bot. Rambutnya seperti gaya rambut bob. "Apa yang kamu mau dari kami?" tanya Elvia. "Do you wanna play? (mau bermain?)" tanya Charlie pada kami, nadanya seperti suara anak-anak yang menyeramkan. "Kau mau apa?!!" teriak Elma, dia benar-benar emosi karena harus berhadapan dengan Charlie. "Do you wanna play?" tanya Charlie lagi, tapi nadanya berbeda dari pertanyaan sebelumnya. Suaranya berat dan serak. Kami langsung pingsan di lantai ruang tamu.
***
"Arghh!! Aku tidak mau terus-terusan diterror!!" kata Vania dengan kesalnya. "Kita harus cari cara supaya Charlie tidak dapat mengganggu kita lagi," kataku dengan geram. Aku memang sudah muak karena harus menghadapi teror-teror yang diberikan Charlie. "Ketemu, aku menemukannya. Selama ini kita salah. Jika ingin menghentikan permainan itu, kita harus membakar kertasnya dan mematahkan kedua pensilnya, bukan dengan cara memisahkan pensilnya lalu membuang kertasnya ke tempat sampah," jelas Elvia sambil menatap tajam ke Elma, sedangkan yang ditatap hanya menunjukkan wajah watados (wajah tanpa dosa). "Di sini dikatakan kertas itu diibaratkan seperti sebuah undangan," Elvia membaca artikel yang ada di laptopnya. "Apa kita tidak bisa membuat undangan baru?" tanya Vania. "Tidak bisa," jawab Elvia singkat. "Baiklah, malam ini kita harus menghentikan teror ini untuk selamanya," kataku dengan tegas.
***
"Charlie, di mana kau pengecut?!!" teriak Elma dengan tegas. Saat ini hanya ada aku, Elma, dan Elvia, sementara Vania pergi ke tempat pembuangan umum mencari kertas tersebut.
"I'm here," Charlie bersuara pelan, namun masih terdengar olehku. "Kau mau bermain, bukan?" tanya Elvia. Charlie mengangguk, wajahnya lebih pucat dari yang semalam. Wajahnya mengelupas. Dia lebih mirip Iblis dibandingkan anak anak.
"Kalau begitu, bagaimana kita bermain kejar-kejaran aja?" tawarku pada Charlie. Charlie tampak bersemangat. "Aku mau," jawab Charlie. Kami semua pun segera berlari ke arah yang berbeda. Charlie mengejar Elvia terlebih dahulu karena menurut Charlie Elvia itu korban yang mudah. "Huwaaaa!!! Jangan kejar aku dulu dong!!!" teriak Elvia. Charlie menancapkan pensilnya ke punggung Elvia. "Akhhh!!!" teriak Elvia, darah Elvia pun mengalir di lantai.
"Elvia!!!" teriak kami berdua. "Tidak ada waktu untuk menangisi Elvia, Elma," kataku pada Elma. Aku segera berlari ke arah dapur. Kukira Charlie mengejarku, tapi dugaanku salah. Kini Charlie mengejar Elma. "Awww!!!" Elma berteriak karena Charlie menancapkan dua pensil ke perutnya. Darah Elma pun ikut mengalir di lantai.
"Sekarang hanya tersisa dirimu," kata Charlie. Aku ketakutan. Charlie pun melemparkan pensilnya ke arahku. Aku menutup mataku sekuat-kuatnya, tapi hey kenapa aku tidak merasakan apa pun? Aku membuka mataku. Kulihat Vania sudah ada di depanku. Pensil yang dilempar Charlie tadi menembus tepat di dada Vania. "Va-Vaniaa ...," panggilku lirih, "a-aku dapat u-undangannya," kata Vania, itu membuat hati ku terasa sakit. Aku mengeluarkan dua pensil yang kugunakan saat memanggil arwah Charlie, "Charlie, look at this," kataku sambil tersenyum. Krak ... Krak .... Aku mematahkan dua pensil itu. Seketika kedua kaki dan tangannya menghilang. Charlie langsung mengejarku. Aku dengan cepat menghidupkan api kompor dan menbakar kertas tersebut. Charlie berteriak kesakitan. Lalu dia menghilang untuk selamanya.
Aku berlari ke arah Vania. "Vania, ayo bangun, aku sudah membuat Charlie pergi dan tidak akan pernah kembali lagi," kataku. Aku menangis karena melihat ketiga jasad sahabatku sudah tidak bernyawa lagi. Kenapa aku harus merasa kehilangan lagi? Tuhan, kenapa kau mengambil orang-orang yang kusayangi? Aku menelfon orang tua mereka. Orang tua mereka terkejut dan syok. Mereka segera menjemput anaknya masing-masing untuk dimakamkan.
***
"Hai Vania, Elma, dan Elvia," sapaku pada mereka. Yeahh ... aku sedang mengunjungi makam mereka. "Maaf, ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mengajak kalian melakukan permainan itu," kataku lirih. Hatiku benar-benar sakit melihat makam sahabatku.
"Tenang aja, aku akan menyusul kalian suatu hari nanti. Semoga kalian tenang di sana," kataku sambil meletakkan bunga di atas makam mereka. Aku berbalik dan berjalan lemas. Tanpa kusadari mereka menampakkan arwahnya di atas makam mereka sendiri. "Viona," panggil Elvia lembut. Aku menoleh ke belakang. Air mataku lolos begitu saja. "Jaga dirimu baik-baik dan ini bukan salahmu kok," kata Vania. Air mataku semakin deras. "Aku merindukan kalian," kataku. "Kami juga merindukanmu, Viona." Setelah berkata demikian arwah mereka menghilang untuk selamanya. "Semoga tenang di alam sana," kataku sekali lagi, lalu aku berjalan pulang ke rumah.
Tamat
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MEMBACA SENYAP MTsN SABANG
Membaca senyap MTsN Sabang edisi Selasa, 8 November 2022. Membaca senyap merupakan salah satu program Literasi MTsN Sabang dari sekian banyak program literasi lainnya. Membaca Senyap d
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag Tangga mer
Apel
Apel Siang ini terasa terik sekali matahari membakar wajah ku yang sudah semakin legam terbak
Duka
Duka hadirnya tak terduga sering tak didamba menghadapi Duka dengan sabar adalah Pahala bagi mereka yang percaya Kadang duka menghampiri saat hari begitu indah hingga air
Ayah
Ayah Aku tak pernah ingat hangat belaian tangan kekar mu namun aku percara Engkau selalu membelaiku Karena aku dapat merasakannya Hari ini usia ku bertambah “bukan bertamba
Yang Terabaikan
Yang Terabaikan Mengapa engkau melakukan apakah hanya karena mengejar penghargaan segera hentikan jika itu yang menjadi alasan Seberapa penting alasan itu jangan pernah en
Tulang Rusuk
Tulang Rusuk wahai engkau sang tulang rusuk berakhir sudah kini di hari Sabtu 29 Agustus 2020 Engkau tak pantas lagi menjadi tulang rusuk Menangis darah pun engkau Mulai hari ini
Sujud
Sujud ada rasa nyaman yang menyelimuti saat kening menyentuh bumi memuja Mu Ya Ilahi Rabbi ada hampa yang menghampiri jika terlambat aku mengadu melepas resah yang meliput
Sahabat
Sahabat kalian selalu ada bersama ku tersenyum dan menangis bersama kadang marah kadang canda sering kita galau bersama Sahabat Seakan tak berbatas rasa Saat kita saling berbagi
